Pemurni Air Minum

PEMURNI AIR PUREIT DARI UNILEVER

Dapatkan Filter Pemurni Air Pureit Unilever Yang Canggih, Tanpa Listrik, Tanpa Gas, Hemat, Praktis, Aman, harga Rp. 650rb, Tersedia layan Antar Hubungi 087809244600, 081317004125
ONGKOS KIRIM sesuai lokasi tujuan

Kamis, 21 Oktober 2010

Fitur Unggulan Pureit

Germkill Kit
 
  • Germkill Kit
Terdiri dari
  1. Filter Karbon Aktif
  2. Prosesor pembunuh Kuman 
  3. Penjernih
Germkill Kit perlu diganti setelah memurnikan 1500 liter air atau setara dengan 80 galon untuk pemakaian sekitar 6-8 bulan*.
Mudah didapatkan dan di ganti.

Germkill Life Indicator Pureit
  • Germkill Life Indicator Pureit
Memberi tahu Anda sebelumnya kapan harus mengganti Germkill Kit. Jika Anda belum mengganti Germkill Kit pada waktunya,
Mekanisme Penghentian Otomatis akan bekerja dan menghentikan aliran air sampai dilakukan penggantian Germkill Kit yang baru. Menjamin anggota keluarga Anda selalu mendapatkan air aman bebas kuman.

*Dengan asumsi pemakaian air per keluarga per hari sekitar 8 – 10 liter, dengan temperatur ruangan 25C dan kelembaban sedang 

Deskripsi produk Pureit

Hemat ! Tanpa GAS, Tanpa Listrik, Tanpa Memasak 
            
             Khusus JABODETABEK dan BANDUNG
Pureit hadir untuk keluarga anda dengan keuntungan berikut:
  • Hemat gas : Tidak perlu gas untuk memasak air.
  • Hemat listrik : Teknologi Pureit yang canggih 
  • TIDAK memerlukan listrik.
  • Tidak perlu memasak air : Cukup tuangkan 
  • air tanah / PAM ke Pureit , langsung mendapatkan air yang aman.
  • Tanpa galon : Tidak perlu membeli galon untuk tempat isi ulang
  • Rasa yang alami : Menghasilkan air dengan rasa alami.
  • Air yang jernih dan tidak berbau : Menghasilkan air yang jernih 
  • dan tidak berbau.
  • Kapasitas penyimpanan yang besar Pureit menyimpan 
  • 9 liter air yang aman untuk langsung diminum.
  • Garansi 1 tahun Pureit memberikan 1 tahun garansi 
  • untuk cacat produksi *
 Hanya Rp. 500.000/ unit
 Refill Filter  Rp. 150.000 / paket = 80 Galon = 1500 liter
 Kapasitas isi 18 liter 
 SUDAH ONGKOS KIRIM  JABODETABEK dan BANDUNG
 PENGIRIMAN dari Unilever Indonesia 7 Hari Kerja 

Unilever Indonesia Luncurkan Unilever Pureit

Reportasenews.com - Tercemarnya sumber air minum oleh kuman berbahaya serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai metode pengolahan air minum yang ideal diyakini sebagai salah satu penyebab tingginya angka kejadian berbagai penyakit infeksi di Indonesia seperti diare, thypus, kolera dan disentri. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat penyakit tersebut dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik dan tepat.
Menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia akan metode pengolahan air minum yang efektif dan efisien, Unilever Indonesia pada hari Selasa (19/10) di Planet Hollywood, Jakarta meluncurkan Unilever Pureit, inovasi permurni air dengan teknologi canggih sebagai salah satu alternatif dalam menghasilkan air siap minum tanpa menggunakan gas dan listrik. Air tanah/PAM mentah yang biasa Anda masak untuk minum dapat diproses oleh Pureit untuk menghasilkan air siap minum yang terlindungi sepenuhnya dari kuman berbahaya penyebab penyakit.
Felicia JulianBrand Manager Unilever Pureit mengatakan, "Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Unilever bersama dengan Sucofindo di 300 sumber air tanah di wilayah Jabodetabek dan Bandung, 48 persen sumber air di Jabodetabek dan Bandung tersebut tercemar oleh bakteri
coliform dan 50 persen berada pada tingkat keasaman (pH) yang rendah di luar ambang batas wajar. Dimana untuk wilayah yang sama juga, lebih dari 40 persen warga masih memasak air tanah/PAM mereka untuk sumber utama air minum. Jika diukur secara nasional bahkan 57 persennya masih menggantungkan proses air minum mereka dengan merebus".


Diare menduduki peringkat kedua penyebab kematian balita dengan 162.000 kematian setiap tahunnya. Balita yang minum air tercemar memilki resiko lebih tinggi terkena diare dibanding balita yang air minumnya aman. Fenomena tersebut menekankan adanya kebutuhan akan metode pengolahan air yang efektif dan efisien untuk menghasilkan air minum yang terlindungi dari kuman berbahaya.
Dr. R. Budi Haryanto SKM, M.Kes, M.SCpakar Kesehatan Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan: Hampir 50 persen penyakit yang diderita oleh masyarakat Indonesia ini disebabkan oleh air minum yang tercemar dan pola hidup tidak bersih. Sebut saja diare, 124 juta orang di Indonesia menderita diare pada tahun 2006 dan jumlah kasus diare menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun yakni 30 persen tahun 2000 dan meningkat menjadi 35 persen hanya dalam kurun waktu tiga tahun (2003).
Keadaan ini mengharuskan masyarakat untuk mencari metode pengolahan air tepat guna untuk menghasilkan air minum yang layak dan aman. Tanpa metode yang tepat, bahkan setelah direbus, air tersebut masih belum aman sepenuhnya untuk dikonsumsi karena masih ada kemungkinan mengandung kuman berbahaya. Untuk itu, Unilever Indonesia meluncurkan Unilever Pureit untuk menjawab kebutuhan akan metode pengolahan air yang efektif dan efisien, tambahFelicia JulianBrand Manager Unilever Pureit.
Metode pengolahan air menggunakan Unilever Pureit merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan metode pengolahan air yang ideal yang dapat menghasilkan air minum bebas kuman penyebab penyakit. Dengan pengunaan metode pengolahan air yang ideal sebagai tindakan pencegahan, maka diharapkan dapat membantu mengurangi angka kejadian penyakit infeksi yang disebabkan oleh air minum tercemar.
Teknologi Unilever Pureit dengan empat (4) tahap pemurnian airnya mampu menghasilkan air siap minum yang terlindungi sepenuhnya dari kuman berbahaya. Pureit juga mampu menghilangkan partikel terlihat, parasit dan pestisida, menurunkan kandungan logam berat, sehingga air yang dihasilkan jernih, tidak berbau dengan rasa yang alami. Metode yang digunakan juga sangat efisien tanpa membuang air, juga tanpa gas dan listrik.
Kinerja Unilever Pureit telah dinyatakan dapat memenuhi kriteria ketat internasional dari Environmental Protection Agency (EPA), Amerika Serikat, untuk menghilangkan parasit, bakteri dan virus berbahaya (log 6 untuk bakteri, log 4 untuk virus, log 3 untuk parasit). Di Indonesia, kinerja Unilever Pureit telah mendapatkan pengakuan dari beberapa laboratorium terkemuka di bawah naungan UGM, ITB dan IPB dengan menggunakan standar ketat air minum dari PERMENKES No. 492/MENKES/Per/IV/2010, dimana air yang disarankan untuk diproses oleh Pureit adalah air tanah/PAM yang biasa dimasak untuk menjadi air minum.
Indy Barends, selebriti yang juga seorang ibu selaku Brand Ambassador Unilever Pureit menyatakan: Setelah menggunakan Pureit, saya jadi tahu cara yang aman dan juga praktis. Air yang dihasilkan tidak hanya sekedar aman bebas kuman berbahaya, tapi juga dengan rasa yang alami. Nggak pake listrik lagi, jadi lebih ekonomis.
Farhan selebriti yang juga seorang ayah, selaku Brand Ambassador Pureit menambahkan: Konsumsi air bersih untuk keluarga, terutama untuk air minum nggak ada hari liburnya. Setelah di rumah pakai Pureit, anak-anakku sampai terheran-heran kok air keran bisa langsung diminum! Teknologinya begitu canggih sehingga nggak perlu dimasak dan nggak pake galon dan terlindungi sepenuhnya dari kuman penyebab penyakit. (yunus)
Source: Reportasenews.co

Rabu, 20 Oktober 2010

Pureit, Inovasi Permurnian Air Minum


Metode pengolahan air ini merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan metode pengolahan air yang ideal yang dapat menghasilkan air siap minum yang terlindungi sepenuhnya.

LintasCafe – Untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia akan metode pengolahan air minum yang efektif dan efisien, Unilever Indonesia hari ini meluncurkan Unilever Pureit. Ini merupakan inovasi permurnian air dengan teknologi canggih sebagai salah satu alternatif dalam menghasilkan air siap minum tanpa menggunakan gas dan listrik. Air tanah/PAM mentah yang biasa di masak untuk minum dapat diproses oleh alat ini utnuk menghasilkan air siap minum yang terlindungi sepenuhnya dari kuman berbahaya penyebab penyakit.

Metode pengolahan air ini merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan metode pengolahan air yang ideal yang dapat menghasilkan air siap minum yang terlindungi sepenuhnya. Dengan penggunaan metode pengolahan air yang ideal sebagai tindakan pencegahan, maka diharapkan dapat membantu mengurangi angka kejadian penyakit infeksi yang disebabkan oleh air minum tercemar.
Teknologi ini melewati empat tahap pemurnian airnya mampu mengahasilkan air siap minum terlindungi, dan juga mampu menghasilkan partikel terlihat, parasit dan pestisida, menurunkan kandungan logam berat, sehingga air yang dihasilkan jernih, tidak berbau dengan rasa yang alami. Metode yang digunakan juga sanagat efisien tanpa membuang air, juga tanpa gas dan listrik.
Kinerja dari metode ini telah dinyatakan dapat memenuhi kriteria ketat internasional dai Environmental Protection Agency (EPA), Amerika Serikat, untuk menghasilkan parasit, bakteri dan virus berbahaya (log 6 untuk bakteri, log 4 untuk virus, log 3 untuk parasit). Di Indonesia, kinerja metode ini telah mendapatkan pengakuan juga dari beberapa laboratoriumterkemuka dibawah naungan UGM, ITB dan IPB dengan menggunakan standar ketat air minum dari OERMENKES No. 492/MENKES/Per/IV/2010, dimana air sangat disarankan untuk diproses. (iyg)
Source:Lintascafe.com

Alat Sterilisasi Air Tanpa Gas dan Listrik

KOMPAS.com- Ucapkan selamat tinggal pada ketergantungan Anda terhadap gas dan listrik untuk mensterilkan air. Kini, Unilever Indonesia meluncurkan produk baru yang memungkinkan Anda untuk menikmati air minum dengan instan, tanpa perlu repot memanaskannya dahulu, tanpa bantuan bahan bakar apapun, dan tanpa listrik.
Pureit bisa menyaring air sehingga siap minum.
Unilever Pureit, begitu produk baru ini disebut, mampu mensterilisasi dan menjernihkan air dalam waktu singkat tanpa pendidihan, metode sterilisasi konvensional yang biasanya kita pakai. 

Unilever Pureit mensterilkan air lewat empat tahapan. Tahapan pertama adalah filtrasi air lewat penyaring serat mikro untuk menghilangkan kotoran yang terlihat. Tahapan kedua adalah melewatkan air pada lapisan karbon aktif yang akan menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya.

Tahapan ketiga adalah tahapan yang paling penting, di mana semua virus dan bakteri dibasmi oleh sebuah teknologi bernama programmed disinfection technology. Sedangkan tahapan terakhir adalah proses penjernihan yang memungkinkan air menjadi tak berbau dan tak berwarna.
Keseluruhan tahapan itu dilakukan dalam alat yang cuma sebesar dispenser. Dalam produk terbaru Unilever ini, terdapat bagian yang paling penting untuk proses sterilisasi, disebut germkill kit. Bagian ini mampu berfungsi maksimal selama kurang lebih delapan bulan dengan pemakaian normal, atau sebanyak kurang lebih 80 liter. Dalam bagian tersebut, terdapat lapisan karbon, pembunuh bakteri, dan penjernih. 

Pembuatan produk ini didasari oleh kondisi air perkotaan yang kian memburuk. Felicia Julian, Brand Manager Unilever Pureit, mengungkapkan, dari hasil penelitian Unilever yang bekerjasama dengan Sucofindo, 48 persen dari sumber air di Jabodetabek dan Bandung tercemar coliform dan 50 persen sumber air yang ada juga memiliki keasaman di luar ambang batas.

Akibatnya, banyak masyarakat menderita penyakit karena mengonsumsi air tercemar. Pakar kesehatan lingkungan Dr R. Budi Haryanto SKM, MKes, M.Sc., mengatakan, hampir 50 persen penyakit yang diderita oleh masyarakat Indonesia disebabkan oleh air minum yang tercemar dan pola hidup yang tidak bersih.

Sebagai inovasi terbaru dalam sterilisasi air, produk ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya adala pengakuan Internasional dari Environmental Protection Agency (EPA) dan pengakuan nasional dari laboratorium IPB, TIB dan UGM yang menganalisa air hasil sterilisasi Unilever Pureit berdasarkan standar baku air minum dari PERMENKES.


Pemeliharaan alatnya pun tergolong mudah, karena hanya perlu memastikan Germkill Kit dalam kondisi yang layak digunakan, yaitu dengan melihat Germkill Life Indikator, fitur produk yang memungkinkan anda mengetahui kelayakan Germkill Kit

Walau begitu praktisnya menggunakan alat ini, Anda juga harus tetap mengawasi kualitas sumber air yang akan digunakan secara fisik, misalnya dengan melihat apakah terdapat endapan dalam air atau rasa dan warna yang aneh. Adanya endapan, misalnya, diungkapkan Budi Haryanto dapat merujuk pada adanya logam berat yang terdapat di dalam air yang akan dikonsumsi.

Julian mengimbau, "Sebaiknya menggunakan sumber air yang telah biasa digunakan, misalnya air PAM atau air tanah. "Hal tersebut ditekankan sebab alat akan berfungsi dengan baik jika sumber airnya pun baik," katanya. 

Penggunaan alat ini mungkin akan membuat anggaran penyediaan air minum bagi keluarga dapat ditekan. Alat ini dijual dengan harga sekitar Rp 500.000 dengan biaya penggantian Germkill Kitsetiap delapan bulan sekali sebesar sebesar Rp 150.000.

Biaya sterilisasi satu liter air mengunakan alat ini diperkirakan hanya Rp 100 saja, lebih murah dibanding harga satu liter air galon ataupun isi ulang. Pastikan saja Anda rajin membersihkan alat ini dengan cara yang benar, misalnya dengan tak menyikatnya dengan sikat kasar. Saat ini, produk ini baru bisa didapatkan di Jabodetabek dan Bandung.
Source:Kompas.com

Selasa, 19 Oktober 2010

Air Isi Ulang Sebaiknya Dimasak Lagi

Jakarta, Membeli air yang bisa langsung diminum di depot-depot isi ulang air minum makin diminati masyarakat. Tapi sebaiknya, air yang dibeli dari depot dimasak lagi sebelum diminum.

Meski depot-depot air isi ulang tersebut mendaur air bersih dengan standar yang ada menggunakan alat penyaring seperti ultraviolet atau bahan lainnya, namun belum jaminan bakteri-bakteri terutama E.coli akan hilang.

"Rata-rata 50 persen air isi ulang tersebut mengandung bakteri E.coli, karenanya masyarakat disarankan untuk memasaknya kembali sebelum diminum," ujar Dr R Budi Haryanto, SKM, MKes, MSc dalam acara Unilever Pureit: Teknologi Pemurni Air Siap Minum Terlindung dari Kuman berbahaya Penyebab Penyakit di Planet Hollywood, Jakarta, Selasa (19/10/2010).

Budi menuturkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa FKM UI tahun 2009 di daerah Cimanggis, Jawa Barat diketahui bahwa air depot isi ulang mengandung bakteri E.coli dan berhubungan dengan diare pada bayi yang mengonsumsinya.

"Risiko bayi terkena diare 3 kali lebih tinggi pada bayi yang mengonsumsi air isi ulang dibandingkan dengan bayi yang tidak mengonsumsi. Hal ini karena biasanya air tersebut langsung diminum," ujar dosen FKM UI.

Diare menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian balita dan balita yang minum air tercemar akan memiliki risiko lebih tinggi. Fenomena ini menunjukkan pentingnya metode pengolahan air yang efektif dan efisien, sehingga air yang dikonsumsi bisa terbebas dari mikroorganisme berbahaya.

Budi menuturkan proses yang digunakan oleh depot isi ulang tersebut sebenarnya sudah benar, dan penyaring yang digunakan seperti ultraviolet memang bisa digunakan menyaring bakteri atau senyawa kimia yang terdapat di dalam air.

"Tapi permasalahannya adalah siapa yang bisa menjamin bahwa penyaring tersebut diganti secara teratur, karena biasanya yang menjaga depot bukanlah sang pemilik yang sudah mendapatkan training tapi orang lain. Untuk itu pengawasannya harus diperketat," ungkap dosen yang lahir di Malang 51 tahun silam.

Jika masyarakat masih mengonsumsi air isi ulang yang berasal dari depot-depot, maka sebaiknya air tersebut dimasak kembali atau dilewatkan pada dispenser yang air panas untuk mengurangi kontaminasi bakteri.

Vera Farah Bararah - detikHealth

Sabtu, 09 Oktober 2010

Praktis dan Ekonomis

Tidak perlu memasak air:
Tuangkan air PAM/tanah mentah
yang biasa Anda masak untuk minum
ke dalam Pureit untuk mendapatkan air
yang aman
Tanpa Galon:
Tidak perlu membeli air galon
atau air isi ulang






HEMAT GAS:
Tidak perlu gas untuk memasak air


HEMAT LISTRIK:
Teknologi Pureit yang canggih
tidak memerlukan listrik
Rasa yang alami:
Menghasilkan air dengan rasa
yang alami

Air yang jernih dan tidak berbau:
Menghasilkan air yang jernih
dan tidak berbau
Kapasitas penyimpanan yang besar:
Pureit menyimpan 9 liter air yang
aman untuk langsung diminum


Garansi 1 tahun:
Pureit memberikan 1 tahun garansi
untuk cacat produksi